Gordang Sambilan

Gordang Sambilan sebagai bentuk alat
musik pukul (membranophone) merupakan identitas musik yang dimiliki oleh
masyarakat Batak-Mandailing, Gordang Sambilan memiliki karakteristik
sebagai alat musik pukul yang berasal dari Sumatera Utara Gordang
Sambilan secara harfiah berarti sembilan buah gendang, Sembilan buah
gendang yang terkait dengan instrumen musik lainnya, pengertian Gordang
Sambilan merupakan penjelasan yang mencakup keseluruhan ensambel Gordang
Sambilan termasuk gong, simbal, dan alat musik tiup masyarakat
Mandailing.Pengertian secara harfiah gondang mengandung beberapa arti:
(1) alat musik; (2) nama lagu atau repertoar; (3) komposisi musik; (4)
jenis musik tertentu; dan (5) sebagai musik itu sendiri. Istilah
Gordang, ada kaitanya dengan sistem bercocok tanam orang Mandailing di
hauma (berladang di bukit-bukit, baik tanaman palawija maupun padi).
Dalam bercocok tanam di hauma ini, ada satu alat semacam “tugal” yang
disebut ordang yang digunakan untuk melubangi tanah, setelah tanah
berlubang barulah biji-biji tanaman dimasukkan ke dalam tanah dan
kemudian ditutup seperlunya dengan tanah. Proses kegiatan bercocok tanam
ini disebut mangordang, sedangkan Siregar (1977:87) mendefinisikan
Gondang merupakan gendang, dalam arti gondang tunggu-tunggu dua, Gordang
adalah gendang, dalam artian sebagai gendang besar (dalam hal ini
Gordang Sambilan).
Kaitan antara materi pembentuk (ekologis)
dan ritual (simbol) menciptakan suatu kondisi sosial yang terlegitimasi
kepada penggunaan Gordang Sambilan yang sarat nilai-nilai ritual-magis.
Gordang Sambilan memiliki hubungan ritual, dimana ideologi Gordang
Sambilan didasarkan pada interaksi antara masyarakat (manusia) dengan
Tuhan (Dewata ataupun penguasa alam) yang diaplikasikan pada bentuk
Gordang Sambilan yang besar dari segi ukuran dan suara yang menggemuruh,
kesemua hal tersebut bertujuan mendukung korelasi interaksi antara
manusia dan “penguasa alam”, yang digambarkan secara umum sebagai sosok
yang memiliki kelebihan dari mahluk secara manusiawi. Gordang Sambilan
berdasarkan ekologis materi pembentuknya terbuat dari kayu ingul (Ruta
Angustifola) yaitu sejenis kayu hutan dengan dinding serat yang tebal
dan tidak mudah pecah serta memiliki ketahanan terhadap air. Pilihan
rasional atas materi pembentuk Gordang Sambilan memberi petunjuk bahwa
nenek moyang Batak-Mandailing pada masa itu telah memiliki pengetahuan
yang cukup memadai atas materi pembentuk Gordang Sambilan yang kuat,
tahan lama dan juga sebagai pemberian guna kembali kepada roh leluhur
atas limpahan kekayaan alam. Dahulunya materi pembentuk Gordang Sambilan
dipilih dari beberapa kayu yang ditebang dan diambil dari beberapa
hutan serta gunung, kearifan tradisional ini bertujuan melindungi
penggunaan hutan secara berlebih sehingga dalam pengambilan pohon
tersebut disertai dengan ritual-ritual dan pembacaan mantra tertentu
yang ditujukan kepada roh nenek moyang agar mengizinkan pohon tersebut
ditebang.
Pada hakikatnya fungsi dan kegunaan
Gordang sambilan tidak berubah namun pada zaman sekarang penggunaannya
lebih luas seiring dengan perkembangan musik yang di kenal pada saat
sekarang ,dimana gondang sambilan ini dapat tergolong ke dalam musik
kontemporer dalam beberapa pergelaran musik yang diselenggarakan.
Sedangkan penggunaannya dalam upacara adat, Gordang Sambilan dimainkan pada upacara perkawinan yang dinamakan Orja Godang Markaroan Boru dan upacara kematian yang dinamakan Orja Mambulungi. Penggunaan Gordang Sambilan untuk
kedua upacara adat tersebut, karena untuk kepentigan pribadi maka harus
lebih dahulu mendapat izin dari pemimpin tradisional yang dinamakan Namora Natoras dan Raja Panusunan Bulung sebagai kepala pemerintahan Huta/Banua. Permohonan izin itu dilakukan melalui suatu musyawarah adat yang disebut Markobar Adat yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Namora Natoras dan Raja Panusunan Bulung beserta pihak yang akan menyelenggarakan upacara adat. Selain harus mendapat izin dariNamora Natoras dan Raja Panusunan Bulung untuk penggunaan Gordang Sambilan dalam kedua upacara tersebut, harus pula disembelih paling sedikit satu ekor kerbau jantan dewasa yang disebut longit. Jika persaratan tersebut tidak dipenuhi maka Gordang Sambilan tidak boleh digunakan. Dapat ditambahkan bahwa untuk upacara kematian (Orja Manbulungi),gordang yang digunakan hanya dua buah yang terbesar yang dinamakan Jangat, namun dalam konteks penyelenggaraan upacara kematian dinamakan Bombat.
Gordang Sambilan terdiri dari sembilan
gordang berukuran besar dan panjang, gordang sambilan disusun secara
bertingkat menurut ukurannya. Gordang Sambilan terbuat dari kayu yang
dilubangi salah satu ujung lobangnya, kemudian ujung yang lain dituutp
dengan menggunakan membran terbuat dari kulit lembu. Kulit tersebut
ditegangkan dengan menggunakan rotan, yang juga berfungsi sebagai
pengikat. Untuk membunyikan diperlukan pemukul dari kayu. Dalam
penggunaannya, alat musik ini juga disertai peragaan benda-benda
kebesaran seperti bendera adat, payung odong, dan tombak sijabut.
Masyarakat Mandailing punya belasan irama
Gordang Sambilan, ada Gordang Tua, Gordang Manngora Bula Tula, Gordang
Sampuara Batu Magulang, Gordang Roba na Mosok, Gordang Ranggas Na
Mule-Mule, Gorbang Siutur Sanggul, Gordang Gordang Potir, Gordang
Sarama, Gordang Parnungnung, Bombat, dan Bombat Jogo-Jogo. Masing-masing
gendang pada alat musik Gordang Sambilan memiliki nama. Mereka adalah
Jangat Siangkaan, Jangat Silitonga, Jangat Sianggian, Pangaloi,
Pangaloi, Paniga, Paniga, Udong-Kudong, dan Eneng-Eneng. Masing-masing
kerajaan di Mandailing harus punya satu ensambel gordang sambilan. Alat
musik ini merupakan satu set alat musik sakral yang ditempatkan di sopo
godang (balai sidang adat dan kerajaan) atau di satu bangunan khusus
yang terletak di dekat bagas godang.
Gordang Sambilan ini memiliki pengiring
yang terdiri dari 2 buah Ogung, 1 Doal, tiga Salempong atau Mong-mongan,
sebuah alat tiup bernama sarune atau saleot, dan dengan dua buah simbal
kecil, semuanya jadi lengkap sembilan. Sembilan instrumen pengiring
untuk 9 gendang . Dua buah ogung tersebut adalah ogung boru-boru (gong
betina), dan ogung jantan ( gong jantan). Doal, merupakan satu gong yang
lebih kecil dan tiga gong yang lebih kecil lagi dinamakan salempong
atau mong-mongan. Ada juga alat musik tiup bernama Sarune dan simba
kecil yang disebut Tali Sasayat.
sumber:
Menarik dan bermanfaat hasmar (y) makasih infonya...
BalasHapusmantap,horasssssss
BalasHapusBagus men!!! infonya,kita memang harus menghargai budaya kita
BalasHapusmantap men
BalasHapusPostingannya keren
BalasHapusbuat yang gak tau jd tau akan budaya batak.
mantap mania
BalasHapus